Beranda | Artikel
Menilik Konsep Marifatullah Ala Sufi
Rabu, 2 April 2014

KONSEPNYA NJELIMET, UJUNGNYA RUWET, MENILIK KONSEP MA’RIFATULLAH ALA SUFI

Oleh
Ustadz Abdullah Zaen, Lc., MA

“Dalam abad ketujuh Hijri atau ketiga belas Masehi, ajaran tasawuf kelihatan mengalami perkembangan yang mendasar. Bertolak dari pandangan ‘bahwa yang ada hanya Allâh’ itu, Ibn ‘Arabi lalu memandang alam semesta ini sebagai penampakan lahir (tajalli) dari nama-nama Allâh; menurut dia, Allâh itu Esa dari segi esensi-Nya dan berbilang dari segi nama-nama-Nya. Tetapi nama-nama Allâh itu ialah esensi-Nya -bukan sesuatu yang lain- sehingga alam semesta ini adalah penampakan lahir dari esensi-Nya yang mutlak itu dalam rupa wujud terbatas. Karena itu, dari segi penampakan lahir-Nya, Tuhan itu adalah ‘ain segala sesuatu terbatas dengan batas semua yang berbatas.

… Menurut dia, sebagai Esensi Yang Mutlak -tanpa nama dan sifat- Tuhan itu tidak mungkin dikenal, bahkan bukanlah Tuhan, karena yang dikatakan Tuhan itu harus ada yang bertuhan pada-Nya. Dalam kata lain, bagi Ibn ‘Arabi Tuhan itu hanya dapat dikenal melalui penampakan lahir-Nya dalam rupa alam semesta yang serba ganda ini, yang menampakkan Esensi Yang Mutlak itu dalam rupa wujud terbatas…”.[1]

PROLOG
Mengenal Allâh Azza wa Jalla , atau biasa diistilahkan dengan ma’rifatullâh, adalah salah satu kebutuhan primer yang amat mendasar dalam kehidupan seorang insan. Sebab dengan mengenal Allâh Azza wa Jalla , akan sempurnalah ibadahnya kepada Allâh Azza wa Jalla .

Termasuk bentuk kasih sayang Allâh kepada para hamba-Nya, dalam hal-hal yang sangat pokok yang amat dibutuhkan mereka, Allâh Azza wa Jalla akan memudahkan jalan untuk menggapainya. Antara lain dengan cara, Allâh Azza wa Jalla memperbanyak sarana yang bisa mengantarkan ke sana. Sehingga, jika kita tilik sejarah para salafus shalih, dari kalangan para sahabat maupun beberapa generasi sesudah mereka, kita akan dapatkan potret-potret indah yang menggambarkan betapa mereka begitu mengenal Allâh. Dan itu bukan hanya didominasi oleh para Ulama saja. Namun kalangan awamnya pun mengalami hal serupa.

Namun, semakin ke belakang, amat disayangkan jalan menuju ma’rifatullâh yang telah dimudahkan oleh Allâh Azza wa Jalla , kemudian dipersulit oleh sebagian kalangan. Dengan memunculkan konsep-konsep yang jauh dari tuntunan Islam. Akibat dari terjangkitinya banyak kaum Muslimin oleh virus akut filsafat dan ilmu kalam.

Nukilan dua paragraf di awal tulisan ini, kiranya bisa sedikit menggambarkan betapa njelimetnya konsep ma’rifatullâh dalam ajaran tasawuf. Untuk membacanya saja perlu kening ini berkerut-kerut dan mengulang-ulang, apalagi untuk memahaminya.

Andaikan permasalahannya berhenti sampai di situ saja, mungkin agak ‘mendingan’, namun realitanya lebih parah! Sebab konsep njelimet tersebut ternyata bermuara kepada keyakinan yang ruwet ! Yakni keyakinan wihdatul wujud (bersatunya hamba dengan Rabbnya), atau biasa disebut dalam istilah Jawa: manunggaling kawulo lan gusti.

Realita ini mungkin bisa digambarkan dengan sebuah metafora Arab yang berbunyi : “Daging busuk di puncak gunung yang terjal”. Sudah menyabung nyawa mendaki gunung yang tinggi dan terjal, ternyata yang ditemukan di puncaknya adalah daging yang expiried ! Sudah melewati konsep yang berlika-liku, ternyata ujungnya tidak berguna bahkan berbahaya !

DARI MANA KEJELIMETAN ITU BERASAL?
Sebagaimana sejarah sekte-sekte lain dalam Islam, ajaran tasawwuf juga terkontaminasi ajaran-ajaran yang berasal dari luar Islam. Banyak ajaran asing yang mewarnai tasawwuf, di antaranya yang paling menonjol adalah: ajaran agama Nasrani, filsafat Yunani dan agama-agama India.[2]

Ilmu filsafat merupakan ‘ilmu’ yang njelimet, banyak permainan istilah di dalamnya. Sampai-sampai sebagian mahasiswa mengomentari mata kuliah ini dengan “ruwet bin mumet”. Bahkan para tokoh besar filsafat dan kembarannya; ilmu kalam, banyak yang kemudian menyesali masuknya diri mereka ke dalam pusaran ilmu yang tidak bermanfaat tersebut.

Di antara mereka yang menyadari realita tersebut: Abu al-Ma’âly al-Juwainy (w. 478 H), Abu Hâmid al-Ghazaly (w. 505 H), asy-Shahrastany (w. 548 H), Fakhruddin ar-Râzy (w. 606 H) dan masih banyak tokoh lainnya yang mengungkapkan penyesalan tersebut.

Fakhruddin ar-Razy bertutur, “Aku telah mencermati filsafat dan ilmu kalam, ternyata aku mendapatinya tidak menyembuhkan penyakit, tidak pula melepaskan dahaga. Jalan terdekat (yang mengantarkan kepada kebenaran) adalah jalan al-Qur’ân.”[3]

Bahkan secara khusus al-Ghazaly menulis buku bantahan terhadap filsafat dan ilmu kalam. Yakni buku beliau Tahâfut al-Falâsifah dan Iljâm al-‘Awâm ‘an ‘Ilm al-Kalâm.

Jika para tokoh yang telah masuk begitu dalam ke kubangan ilmu berbahaya tersebut telah menyampaikan kesaksian ini, tidakkah sepantasnya kita kaum Muslimin bersegera menyelamatkan diri darinya dan dari segala sesuatu yang terlanjur terkontaminasi berat dengannya ? Secara khusus: tasawuf ?

Cukuplah nasehat Imam Syâfi’i t yang pernah berkata, “Seandainya seseorang menjadi sufi pada pagi hari, maka siang sebelum Zhuhur ia menjadi orang yang dungu.” Pada kesempatan lain beliau t juga pernah bertutur, ”Tidaklah seseorang menekuni tasawuf selama 40 hari, lalu akalnya (masih bisa) kembali normal selamanya.”[4]

UJUNG YANG RUWET
Setelah melalui konsep yang berlika-liku dalam mengenal Allâh Azza wa Jalla , berakhirlah jalan kaum sufi ke jalan yang buntu nan ruwet; yakni keyakinan wihdatul wujud. Sayangnya mereka justru meyakini bahwa akhir menyesatkan tersebut adalah puncak tertinggi petualangan seorang sufi dalam bertauhid.

Dalam kitab Ihyâ’ ‘Ulûm ad-Dîn disebutkan bahwa tauhid ada empat tingkatan, yang paling tinggi adalah, “Seorang hamba tidak melihat di alam ini kecuali hanya satu wujud. Inilah penglihatan para shiddîqûn. Kaum sufi menamakannya “fana dalam tauhid”. Dan ini merupakan tujuan akhir dari tauhid”.

Keyakinan bersatunya makhluk dengan Allâh Azza wa Jalla atau sebaliknya, merupakan suatu ideologi yang amat bertolak belakang dengan al-Qur’ân dan Sunnah yang dengan tegas menjelaskan bahwa Allâh Azza wa Jalla dan para hamba-Nya terpisah. Sebab Allâh Azza wa Jalla berada di atas ‘Arsy (baca: al-Qur’an surat Thaha: 5)[5] , sedangkan para manusia berada di muka bumi. Bagaimana mungkin kemudian dikatakan bersatu antara dzat Khaliq dengan dzat makhluk-Nya?

Dalam al-Qur’ân, Allâh Azza wa Jalla telah memvonis kafir kaum Nasrani yang mengklaim bahwa Allâh Azza wa Jalla bersatu dengan Nabi Isa Alaihissallam.

Firman Allâh Azza wa Jalla :

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ

Sungguh, telah kafir orang yang berkata, “Sesungguhnya Allâh itu dialah al-Masih putra Maryam. [al-Mâidah/5:17, 72]

Jika keyakinan bahwa Allâh Azza wa Jalla bersatu dengan Isa divonis oleh Allâh Azza wa Jalla sebagai kekufuran, bagaimana kiranya dengan keyakinan bahwa Allâh Azza wa Jalla bersatu dengan seluruh makhluk-Nya ? Bukankah keyakinan ini lebih parah dan lebih layak untuk divonis sebagai kekufuran ?

Belum lagi jika kita cermati kembali, ternyata ideologi aneh ini berkonsekwensi melahirkan berbagai keyakinan batil lainnya. Antara lain:

1. Boleh menyembah apapun yang ada di alam semesta ini; sebab segala sesuatu merupakan manifestasi dari Allâh Azza wa Jalla
Tidak heran jika kemudian ada di antara kaum sufi yang bersya’ir,
“Anjing dan babi tidak lain adalah sesembahan kami”[6]

2. Siapapun yang menyembah selain Allâh –baik sesembahan itu berupa patung, berhala, batu, pohon, binatang ataupun yang lainnya– tetap dianggap sebagai Mukmin. Karena semuanya masih dinilai menyembah Allâh Azza wa Jalla . Sebab segala yang ada di alam semesta ini adalah bagian dari Allâh Azza wa Jalla, maka apapun yang Saudara sembah sejatinya Saudara telah menyembah Allâh Azza wa Jalla .

Jalaluddin ar Rumi, penyair dari Persia (Iran) pernah bertutur,
“Bila di dunia ini ada orang Mukmin, orang kafir atau pendeta Nasrani, maka aku adalah dia.
Aku hanya punya satu tempat ibadah, baik itu masjid, gereja ataupun candi”[7]

3. Konsekwensi lainnya adalah: keyakinan wihdatul wujud akan menyeret kepada sinkretisme agama. Sebab apapun yang disembah oleh pengikut agama manapun sejatinya adalah sama, yakni wujud dari Allâh Azza wa Jalla . Jadi mengapa musti membeda-bedakan antar agama ?

Ibn ‘Arabi menerapkan dengan ‘baik’ konsep sesat tersebut dalam perkataannya, “Semua makhluk berkeyakinan tentang ilah (sesembahan) dengan berbagai keyakinan
Dan aku berkeyakinan (tentang ilah) dengan seluruh yang mereka yakini itu”. [8]

Wacana penyatuan antar agama cukup gencar digagas oleh banyak kalangan ‘Muslimin’ belakangan ini. Sebuah anggapan bahwa semua agama adalah benar, memiliki tujuan yang sama. Yaitu menyembah tuhan yang sama, hanya berbeda dalam cara.

Tak ayal, pemikiran ini mendapat sambutan yang sangat luar biasa dari kalangan Orientalis dan musuh-musuh Islam lainnya. Karena, pada gilirannya berarti semua keyakinan adalah benar, tidak ada perbedaan antar-manusia. Seluruh agama kembali kepada satu keyakinan, karena semuanya jelmaan dari Tuhan.

Padahal pemikiran ini sejatinya telah mencampur-adukkan antara yang benar dan batil. Sehingga dapat menyebabkan hilangnya identitas kaum Muslimin, meninggalkan amar ma’ruf nahi mungkar, dan jihad di jalan Allâh.

Oleh karena itu, kaum Orientalis memberikan perhatian yang besar dan porsi yang istimewa terhadap keyakinan rusak ini. Yaitu dengan lebih memperdalam kajian tentang tasawwuf. Karena, tasawwuf ini mendukung sebagian tujuan mereka. Yakni untuk melupakan kaum Muslimin dengan ajarannya. Juga untuk memecah-belah kaum Muslimin.

Dengan pemikiran wihdatul wujud, orang-orang orientalis merasa memiliki sarana yang tepat untuk menyebarkan berbagai kekufuran. Namun sayangnya masih banyak di antara kaum muslimin yang tidak sadar akan bahaya besar itu!.[9]

PARA TOKOH PENGUSUNG WIHDATUL WUJUD DI INDONESIA
Pengibar bendera keyakinan ini di Indonesia tidaklah sedikit. Dahulu maupun sekarang. Dahulu di jawa ada Syekh Siti Jenar, di Sumatra ada Hamzah al-Fansûrî dan Syamsuddîn as-Sumatranî, dan di daerah Sulawesi serta Kalimantan ada Yûsuf al-Maqassarî juga Muhammad Nafîs al-Banjarî.[10]

Akhir-akhir ini ada sebagian kalangan yang berusaha membungkus pemahaman sesat ini dengan ‘baju sains’, yaitu: Agus Mustofa dalam bukunya Bersatu dengan Allâh [11].

KESIMPULAN
Dari keterangan di atas bisa disimpulkan bahwa konsep ma’rifatullâh dalam ajaran tasawuf, bukanlah konsep yang dibangun di atas al-Qur’an, Sunnah dan pemahaman para ulama salaf. Sehingga wajarlah seandainya berujung kepada pemahaman yang menyimpang. Maka berhati-hatilah!

Wallahul hâdi ilâ sawâ’is sabîl…

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun XVI/1433H/2012M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Mengenal Allah – Suatu Studi Mengenai Ajaran Tasawuf Syaikh Abdussamad al-Palimbani, karya Dr. M. Chatib Quzwain (hal. 36-37).
[2]. Baca contoh-contoh nyata keterpengaruhan tersebut dalam: Mashâdir al-‘Âmmah li at-Talaqqi ‘Inda ash-Shûfiyyah, karya Dr. Shadiq Salim Shadiq (hal. 30-49). Untuk pembahasan lebih luas tentang keterpengaruhan ajaran tasawuf dengan produk ‘impor’ dari luar Islam, baca: 1. al-Bûdziyyah Târîkhuhâ wa ‘Aqâ’iduhâ wa ‘Alâqah ash-Shûfiyyah bihâ (Agama Budha, Sejarahnya, Keyakinannya dan Korelasi Kaum Tasawwuf dengannya) karya Dr. Abdullah Mushthafa Numsuk. 2. Al-Hindûsiyyah wa Ta’atstsur Ba’dh al-Firaq al-Islâmiyyah bihâ (Agama Hindu dan Keterpengaruhan Sebagian Kelompok Islam dengannya) karya Dr. Abu Bakr Muhammad Zakaria. 3. At-Tashawwuf wa Ta’atstsuruhu bi an-Nashrâniyyah wa al-Falsafât al-Qadîmah (Tasawwuf dan Keterpengaruhannya dengan Agama Nasrani dan Berbagai Filsafat Klasik) karya Dr. Ibrahim bin Khalaf at-Turky. Ketiga buku ini adalah disertasi di jurusan akidah Islamic University of Medina.
[3]. Lihat statemen-statemen mereka lainnya dalam: Tahdzîr al-Anam min ‘Ilm al-Kalam karya Syaikh Abdul Aziz bin Ali asy-Syibl (hal. 19-24).
[4]. Dinukil oleh Ibn al-Jauzy dalam Talbîl Iblis.
[5]. Keyakinan bahwa Allâh berada di atas ‘Arsy dibangun di atas banyak dalil dari al-Qur’an, Sunnah maupun Ijma’ para ulama Islam. Di antara yang menukil ijma’ tersebut: Imam Abu al-Hasan al-Asy’ary dalam kitabnya: Risâlah ilâ Ahl ats-Tsaghr (hlm. 231-232).
[6]. Dinukil dari Hâdzihi Hiya ash-Shûfiyyah (hlm. 64).
[7]. Dinukil dari Da’wah at-Taqrîb Bain al-Adyân karya Dr. Ahmad al-Qâdhi (I/388-389).
[8]. Fushûsh al-Hikam (hal. 345) dinukil dari Da’wah at-Taqrîb (I/386).
[9]. Diringkas dari makalah berjudul Hakikat Keyakinan Wihdatul Wujud dan Pelopornya tulisan Ust. Muhammad Ashim Musthofa, Lc.
[10]. Lihat: Misteri Syekh Siti Jenar karya Prof. Dr. Hasanu Simon (hal. 386), Syi’ah dan Ahlus Sunnah Saling Rebut Pengaruh dan Kekuasaan karya Prof. A Hasjmy (hal. 52-53), Syekh Yusuf Seorang Ulama, Sufi dan Pejuang karya Abu Hamid (hal. 180) dan Ensiklopedi Islam Indonesia (hal. 676-678).
[11]. Untuk bantahan yang luas atas paham wihdatul wujud, silahkan merujuk kitab: ‘Aqîdah ash-Shûfiyyah Wihdah al-Wujûd al-Khafiyyah karya Dr. Ahmad bin Abdul ‘Azîz al-Qushayyir.


Artikel asli: https://almanhaj.or.id/3886-konsepnya-njelimet-ujungnya-ruwet-menilik-konsep-marifatullah-ala-sufi.html